Menjadi Hamba Penuh Cinta Saat Corona - Abi Muzhaffar
News Update
Loading...

Selasa, 14 April 2020

Menjadi Hamba Penuh Cinta Saat Corona

Abi Muzhaffar - Menjadi Hamba Penuh Cinta Saat Corona. Bersyukurlah kita hidup di negara dengan iklim sosial yang cukup peduli. Walaupun di beberapa kota besar individualisme mulai terasa, namun mayoritas dari kita masih berjiwa sosial tinggi. Mungkin hal ini juga berdampak ketika pemangku kebijakan agak kewalahan untuk menyuruh warganya untuk tinggal di rumah dan membuat jarak dengan sesama.

Yah, meski pe-er besar bagi kita untuk menyeragamkan social distancing pada seluruh rakyat Indonesia, tapi nilai positif tetap Nampak dari fenomena ini, yaitu jika sudah ada yang terjangkit virus, maka solidaritas antar sesama akan muncul. Seperti pada sebuah daerah dimana penduduknya saling bekerjasama mengumpulkan kebutuhan pokok untuk disumbangkan ke keluarga pasien yang menjadi tahanan rumah selama 14 hari ke depan. Inilah salah satu bentuk cinta yang Allah tanamkan untuk rakyat Indonesia.

Lain lagi di lingkup masyarakat terkecil, yaitu keluarga. Anugerah Allah bagi para anggota keluarga untuk bisa berkumpul, saling bertatap muka, menanya kabar, bercengkrama, bertukar cerita, membuktikan bahwa ada cinta yang harus kembali dieratkan di rumah. Namun satu hal yang pasti, cinta itu tidak cukup hanya diberikan, tetapi juga diperjuangkan.


Menjadi Hamba Penuh Cinta saat Corona

Betapa banyak orang yang mengaku cinta tapi gagal mengekspresikannya. Misalnya saja, mungkin kita merasa lebih cinta keluarga sehingga mengisolasi diri dengan lingkungan menjadi satu keputusan yang diambil. Namun, bila kita berlebihan dalam menjaga jarak dengan sesame, bahkan kita tidak tahu bagaimana kabar tetangga kita, kita bahkan sampai tidak peduli pada sekitar, maka ada kekeliruan dalam mengekspresikan cinta.

Demikian pula dengan cinta yang ingin kita pelihara di dalam rumah. Betapa banyak orang tua yang sangat terfokus pada pekerjaan dengan dalih demi membahagiakan buah cinta, namun ia lupa untuk mencurahkan kasih sayang sebagai ekspresi cinta yang juga dibutuhkan oleh anak dari orang tuanya. Ada juga yang cukup sulit mengendalikan emosinya karena orang-orang tercinta yang tidak bisa mengerti apa yang sedang kita rasakan sehingga ekspresi marah menjadi perwakilan diri yang hanya berujung penyesalan, padahal niat hati ingin menasihati dengan cinta.

Memang mendalami kata cinta tak cukup dilihat dari hanya satu sudut pandang. Banyak sudut yang perlu kita perhatikan sehingga perayaan cinta sukses dilaksanakan. Demikian pula kita sebagai seorang hamba. Betapa lemah dan lalainya kita, dimana seringkali kita sudah merasa cukup telah memberikan persembahan cinta sebagai balasan dari cucuran cinta-Nya yang tak terhitung. Kita anggap dengan hanya berupaya memaksimalkan modal yang Allah beri untuk menjalani hidup membuat kita cukup dipandang sebagai hamba yang penuh syukur. Padahal kita jarang bermunajat memohon ampun, meminta belaskasih dalam doa-doa panjang di malam-malam yang sunyi, kita bahkan luput untuk bercengkrama mesra dengan Sang Khalik, seakan kita ingin menyatakan bahwa upaya kita sudah cukup disaksikan oleh-Nya tanpa perlu berpanjang-panjang dalam bermunajat.

Demikian pula dengan sebagian kita yang merasa cukup hanya dengan totalitas beribadah tanpa banyak bergaul, mengabaikan lingkungan bahkan keluarga sendiri hanya demi memuaskan dahaga dalam beribadah. Kita lupa bahwa ada hak-hak lainnya yang terlalaikan dengan ketekunan kita yang berlebihan itu. Bahkan hak tubuh untuk diberi makan dan istirahatpun lupa kita penuhi. Kita berasumsi telah paripurna mempersembahkan cinta pada Sang Pemilik Cinta. Padahal pengabaian terhadap dunia telah menjadi boomerang untuk diri kita hingga kita tersadar bahwa bekal ibadah ternyata tak cukup untuk persediaan kita di akhirat dikarenakan tersedot oleh tuntutan orang-orang yang terbengkalai hak-haknya oleh kita.

Demikian dengan kasus corona ini. Musibah ini memang menjadi musibah yang tidak mudah bagi kita semua. Tetaplah buka mata, hati dan pikiran kita pada lingkungan. Seimbangkan antara urusan sosial, individu, kita sebagai manusia yang hidup di bumi dengan kita sebagai hamba yang kelak akan kembali ke akhirat. Tetap mawas diri dengan berada pada pertengahan, menjadi sebaik-baik manusia dari sisi vertical maupun horizontal. Tetap patuhi ulil amri dan umaro untuk menjalani kehidupan dalam suasana corona, namun tetap dermawan dengan sesama. Terus berproduktif meski terbatasi oleh kondisi dan tetap bermunajat untuk memohon pada Sang Pemilik Semesta agar kita bisa lalui musibah ini dengan sebaik-baiknya dan Allah ridho dengan ikhtiar kita selama ini. Tetap semangat walau banyak halang melintang. Jaga kesehatan dan jaga hubunganmu dengan Sang Khalik. Semoga Allah berkenan dengan semua jerih payah kita di dunia dan meridhoi kita semua. Aamiin.

Share with your friends

Terima kasih telah membaca artikel kami. Silahkan berikan komentar terbaik pembaca untuk mendukung setiap artikel yang kami publish.

Notification
Abi Muzhaffar menggunakan cookies untuk memberikan pengalaman lebih baik. Learn more
Oke