Inilah Ramadhan Pertama dan Terakhirku - Abi Muzhaffar
News Update
Loading...

Jumat, 24 April 2020

Inilah Ramadhan Pertama dan Terakhirku

Sebagian besar, catatan ini akan ditanggapi dengan maksud yang sama.

… yaitu apakah tahun depan bisa bertemu lagi dengan Ramadhan?

Sayangnya, tulisan ini punya maksud yang berbeda. Ini adalah Ramadhan yang pertama.

Sebagian besar, ini adalah Ramadhan pertama untuk mereka yang baru belajar puasa atau bagi mereka yang baru hijrah.


Padahal, ini juga Ramadhan pertama bagi kita semua.

Kenapa Ramadhan pertama? Sebab di bulan ini kita memulai segala sesuatu lagi dari nol.

Ramadhan sebelumnya hanyalah parameter, apakah di bulan ini lebih baik atau justru sebaliknya.

Semuanya dari nol. Memulai lagi dari awal.

Kita bersyukur dengan adanya bulan Ramadhan sebagai hadiah yang tiada terkira.

Hadiah ini membawa angin dan harapan surga.

… di mana, pada bulan ini merupakan bulan “detox” atas kesalahan-kesalahan kita di bulan lainnya.

… di mana, segala amal kebaikan kita di bulan ini, akan “menetralisir” amalan buruk di bulan lainnya.

Inilah Ramadhan yang pertama.

… untuk kita semua.

Bulan yang tepat untuk memulai dari awal –lagi.

Ramadhan Terakhirku


Tenang, catatan ini bukan untuk menakuti kita, apakah tahun depan bisa bertemu lagi dengan Ramadhan.

Bukan pula mendoakan kita akan mati.

Sama sekali bukan.

… tetapi yang ingin saya sampaikan tentang Ramadhan terakhir adalah kesadaran untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Saya teringat nasihat klasik ini, “bersungguh-sungguhlah berbuat baik seakan besok engkau akan mati.”

Kematian memang membuat kita sangat takut. Cemas. Apakah amal baik lebih besar dari amal buruk?

… kita perlu bergerak melangkah.

Mulai pada anggapan apakah tahun depan masih merasakan Ramadhan menuju pada kesungguhan ibadah tanpa sangat takut dengan kematian.

Takut pada kematian itu baik. Membuat kita akan serius menghadapi Ramadhan. Takut kalau tahun depan tak bertemu lagi.

Seperti sepasang kekasih yang saling mencintai, tak berharap akan terpisah. Meski sebentar saja.

… namun yang lebih penting adaah kesungguhan kita dalam beramal baik di bulan suci ini. Kadang-kadang, berharap tahun depan bisa bertemu Ramadhan akan membuat kita lengah.

Lebih menguras energi memikirkan mati ketimbang sungguh-sungguh menjalaninya.

Saran saya, udah aja kit amah fokus meningkatkan amal ibadah kita. Sebaik mungkin. Sesungguh mungkin.

Perihal tahun depan bisa bertemu lagi dengan Ramadhan, itu urusan Tuhan.

Jadi, cukup sudah memikirkan mati terlalu berat. Fokus pada bulan ini untuk beribadah sebaik mungkin dan sesungguh mungkin.

Itu… mungkin lebih baik untuk kita.

#30HariCeritaRamadanFLPYogya #30HCRFLP01

Share with your friends

Terima kasih telah membaca artikel kami. Silahkan berikan komentar terbaik pembaca untuk mendukung setiap artikel yang kami publish.

Notification
Abi Muzhaffar menggunakan cookies untuk memberikan pengalaman lebih baik. Learn more
Oke