Saat Kita Tak Dibutuhkan - Abi Muzhaffar
News Update
Loading...

Kamis, 23 April 2020

Saat Kita Tak Dibutuhkan

Berulang kali saya selalu beranggapan, di sekitar kita tak kekurangan orang baik.

Kita tak kekurangan orang hebat. Tapi kita kekurangan orang yang bisa menilai kemampuan orang lain dengan tepat.

Saat Kita Tak Dibutuhkan


Kebanyakan orang menilai dari sisi yang terlihat, tanpa memandang sudut lainnya.

Sudut yang tak banyak bisa kita ketahui jika tak memikirkannya dalam-dalam.

… dan dibantu dengan istikharah pada Allah SWT yang lebih tahu segalanya.

Pada akhirnya, kita memilih orang yang salah untuk berdiri. Mengganggapnya pantas. Padahal, tidak juga.

Contohnya kepengurusan dalam hal masyarakat, organisasi, sekolah dan lain-lain.

Kebetulan saya punya contoh dalam lingkup sekolah.

Pada saat pemilihan pengurus kelas, saya bertanya kepada siswa siapa yang pantas menjadi ketuanya.

Mayoritas menjawab si A misalnya.

Lalu saya tanyakan mengapa dia memilih si A?

Jawabannya sungguh membuat hati saya teriris.

… ternyata karena si A orangnya asik, gaul dan bisa menghibur teman sekelas.

Sesungguhnya saya tidak bisa menerima keputusan itu begitu saja. Namun setelah melakukan voting, memang ia yang terpilih.

Setahun berjalan, ternyata yang saya khawatirkan terjadi.

… dari report saya menjadi wali kelas, si A ternyata kurang menjalankan tugasnya dengan baik. Lebih suka cengengesan (ketawa-ketiwi), gaul, tapi dalam hal belajar kurang.

Awalnya saya tak mengerti mengapa siklus ini terus berjalan sampai saat ini. Banyak di sekitar kita melakukan pemilihan dengan asal, tunjuk saja, tanpa berpikir apa dia pantas mengembannya.

Modal kita lebih sering karena dia gaul, dia asik, dia lucu, dia banyak disenangi orang.

Bukan … bukan itu.

Kita perlu lebih memerhatikan dengan seksama dan pertimbangan yang lebih matang.

Karena tak semua orang yang gaul, lucu, banyak disenangi orang pantas.

… dan bisa jadi ada orang biasa, mungkin pendiam, mungkin kelihatan tak gaul, tapi bisa berkontribusi banyak jika diberikan peran.

Tahun-tahun berikutnya, sistem pemilihan ketua kelas saya ubah dengan lebih teliti.

Saya tidak lagi mengandalkan suara sumbang dari siswa yang memilih karena alasan tak masuk akal lagi.

Kejadian seperti ini bisa saja terjadi dalam kasus lainnya.

Potensi Terbaik di Sekitar Kita


Saya selalu yakin banyak orang hebat di sekitar kita. Hanya saja, ada yang nampak ada juga yang tidak.

Tapi kebanyakan kita lebih memilih yang nampak saja, tanpa membuka mata bahwa masih banyak orang yang bisa kita pertimbangkan.

Bagi orang yang hebat, saya yakin ia pun ingin sekali berkontribusi. Hanya saja ia malu atau tak sanggup mengajukan diri. Bahkan, ia tak populer di mata orang banyak.

Mungkin, dilirik pun tidak.

Sudah sepantasnya bagi kita jika diberikan suatu hak pemilihan, pandangan kita jangan sampai di ujung mata saja.

Cobalah lihat dari sudut yang lain.

Mungkin banyak orang hebat lainnya yang tak muncul di permukaan dan bisa dipertimbangkan untuk berkontibusi di masyarakat, sekolah, organisasi dan lain-lain.

Memperbaiki Diri Sepenuh Hati


Bagi kita yang ingin sekali berkontribusi, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang pas, namun tak kunjung diberikan amanah, mungkin ini jalan pertama yang perlu kita pilih.

Sebagai orang yang tak berani mengajukan diri seperti yang akan saya bahas selanjutnya, kita lebih suka diam dan menunggu diberikan amanah.

Meski hati kita sudah geregetan ingin membantu, ingin mendapatkan peran, supaya ilmu yang kita miliki dapat berguna. Namun apa daya, kita kurang power dalam hal mengajukan diri.

Memperbaiki diri sepenuh hati bisa kita pilih. Kita perlu memperbaiki diri karena Allah SWT.

Sambil meminta pada-Nya agar diberikan kesempatan.

Hingga biar Allah SWT saja yang menggerakan hati orang untuk memilihnya.

Kita fokus pada perbaikan diri.

… mungkin saja Allah SWT lebih tahu kalau kita belum sanggup menerima amanah.

Makanya IA beri waktu pada kita untuk berbenah.

Belajar dari Nabi Yusuf as


Hal kedua yang bisa kita lakukan adalah mengajukan diri.

… memang akan ada penilaian buruk jika kita melakukan ini. Namun jika kita sanggup melakukannya dengan ikhlas dan tulus, dan siap menerima omongan buruk dari orang yang tak suka, itu nggak masalah.

Kita telah dicontohkan oleh kisah yang sangat indah.

… di mana Nabi Yusuf as berani mengajukan diri untuk diberikan kekuasaan. Ia rasa, ia sangat cocok dan bisa menerima amanah itu, lalu mengajukan diri.

Ini pun bisa kita lakukan.

Kita yang ingin berkontribusi di masyarakat, organisasi dan sebagainya, silahkan mengajukan diri jika kita pantas.

… mungkin ke depannya akan ada suara sumbang tentang kita.

Entah dikatakan ambisius.

Entah dianggap sok.

.. dan anggapan lainnya.

JANGAN takut. Selama kita yakin bisa melakukannya dengan baik, kita buktikan saja jika memang pantas dan sanggup mengemban amanah itu.

***

Pada akhir tulisan ini, saya ingin sekali berpesan.

… jangan terjadi lagi kisah pemilihan ketua kelas yang pernah saya jalani.

Ini bisa terjadi pada kondisi lainnya.

Misalnya dalam pemilihan pengurus RT, RT, organisasi, kepemimpinan dan lain-lain.

Pilihlah orang yang tepat dengan istikharah yang dalam.

Lebarkan sudut pandang kita untuk melihat kemampuan seseorang yang nampak (gaul, suka berbicara) dan orang yang tak nampak (pendiam, jarang berkumpul).

Carilah sebaik mungkin dari kandidat-kandidat yang ada.

Lalu pilihlah dengan baik, benar dan bijak.

… dan jika kita tak diberikan kemampuan untuk melakukan pemilihan, silahkan memperbaiki diri sepenuh hati atau mengajukan diri.

Kita tak boleh diam saja.

Imam 'Ali karamallahu wajhah pernah berpesan, "kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tak terorganisir."

Kita perlu berperan.

Agar adanya hidup kita bisa bermanfaat untuk orang banyak…

Share with your friends

Terima kasih telah membaca artikel kami. Silahkan berikan komentar terbaik pembaca untuk mendukung setiap artikel yang kami publish.

Notification
Abi Muzhaffar menggunakan cookies untuk memberikan pengalaman lebih baik. Learn more
Oke